Kesamaan Bahasa ..
Pak Guru Bahasa Indonesia (BI) dengan lahap menyantap makan siangnya. Di sampingnya, Pak Guru PPKn hanya meneguk kopi panas meski saat itu hawa panas sangat menyengat. Di mulutnya terselip rokok yang tinggal separuh, Di depan mereka dua ibu guru juga ikut jagongan di kantin. Bu Guru Matematika terlihat asyik menikmati resoles yang tampaknya berteman cabe. Matanya agak berair dengan mulut mendesis kepedasan. Sementara Bu Guru Bimbingan Konseling (BK) baru mulai menyendok kuah bakso.
”Nyonya gak masak ya Pak?” tanya Pak PPKn ditujukan ke Guru BI meski matanya menerawang mengikuti arah asap rokok.
”Studi banding ke luar kota bersama murid-muridnya,” jawab Pak BI setelah meneguk teh es menjelaskan posisi istrinya yang juga guru di sekolah lain.
”Waduh manten baru kok sudah pisahan, sh..sh.sh,” meski mulutnya mendesis kepadasan, Guru Matematika masih sempat menggojlok rekannya yang memang baru menikah sekitar dua bulan lalu.
”Ndak masalah....cuma tiga hari,” jawab Pak BI lagi. ”Wong masih di Indonesia aja kok takut.”
”Tapi Indonesia sekarang dan dulu beda lho,” celetuk Bu BK sambil mengiris bakso.
”Ya mesti beda to Bu,” sahut Pak BI ringan. ”Dulu kok disamakan sekarang.”
”Mmm...sebentar,” tangannya menunjuk mulutnya yang masih mengunyah bakso. Setelah ditelan, Bu BK mengutarakan maaksudnya. ”Secara psikologis, masyarakat sekarang lebih individual dibanding dulu. Bahkan masyarakat desa juga sudah mulai mengalami pergeseran. Itu artinya, jika kita mengalami sesuatu, siap-siap kita sendiri yang mengatasi.”
”Kok sampai sejauh itu?” ganti Pak BI yang bertanya arah pembicaraan Bu BK.
”Tanya saja ke Pak PPKn kalau gak percaya,” jawab Bu BK. ”Semangat Sumpah Pemuda kan baru mencapai kesamaan bahasa. Ya gak Pak?”
”Maksud Bu BK, rasa satu bangsa dan satu tanah air belum tertanam. Begitu Bu?” Pak PPKn balik bertanya.
”Itu tugas Pak PPKn menjelaskan kepada para siswa agar semangat Sumpah Pemuda menjadi satu kesatuan, bukan hanya sama bahasanya, tapi rasa berbangsa dan bertanah air berbeda,” potong Bu Matematika.
”Jangan skeptis seperti itu lah Bu,” Pak PPKn mengimbau rekannya seperti terhadap siswanya di kelas.
”Tapi ada benarnya kok ucapan ibu berdua ini,” Pak BI tidak mau kalah berkomentar. ”Selama ini peringatan Sumpah Pemuda lebih ditekankan pada kesamaan bahasa sehingga muncul bulan bahasa setiap Bulan Oktober.”
”Kalau sudah begitu, yang repot Guru BI ya Pak, karena harus membuat acara yang bertema kebahasaan?” sindir Bu Matematika.
”Sebenarnya tidak seperti itu kondisinya. Rasa berbangsa dan bertanah air sudah menyatu dalam dada bangsa Indonesia sehingga tidak perlu diragukan lagi. Buktinya, tak sedikit rakyat Indonesia yang ingin berperang melawan Malaysia karena mereka terusik rasa kebangsaan dan ketanahairannya,” papar Pak PPKn
”Terus bagaimana dengan mantan GAM di Aceh? Apakah mereka benar-benar sudah merasa berbangsa dan bertanah air Indonesia? Begitu juga dengan rakyat Papua yang seakan tak sabar ingin merdeka? Belum lagi Maluku lewat RMS-nya?” cerca Bu BK.
”Wah, cocoknya Bu BK ini Guru PPKn,” kata Pak PPKn sambil tersenyum kecut.
”Kok mutung sih Pak?” olok Bu Matematika. ”Realitanya memang masih banyak warga Indonesia yang belum memiliki rasa kebangsaan dan ketanahairan yang kuat. Sesama anak bangsa, mahasiswa masih banyak yang tawuran. Belum lagi kalau kita lihat perseteruan antara Polri dan KPK yang tak kunjung selesai. Kalau ditanya, pasti mengaku mengemban amanat rakyat. Tapi kenyataannya?”
”Ibu-ibu yang saya hormati,” Pak PPKn mencoba bersabar meski diserang. “Anda harus bisa memisahkan antara kepentingan politik dan bukan.”
”Kalau memang kepentingan politik, apakah etis politik tidak berada di atas kepentingan bangsa dan tanah air?” potong Bu BK.
”Dengan kata lain, politik apapun seharusnya mengutamakan kepentingan bangsa dan tanah air. Bukan golongan apalagi perseorangan. Begitu ya Bu?” imbuh Bu Matematika mendukung Bu BK.
Pak PPKn mau mendebat pendapat kedua bu guru, namun terhenti karena suara Pak BI yang cukup kencang saat telepon melalui ponsel. Meski sudah menjauh dari ketiga rekannya, suara Pak BI terdengar dengan jelas. ”Syukurlah Yang.....Makanya jangan lupa minum obat anti mabuk.”
Ketiga guru saling pandang dan disusul senyum kecil mendengar percakapan mesra Pak BI yang tampaknya segera berakhir. ”Ya...ya...Yaang. Bentar lagi juga pulang. Yo wis jaga kesehatan ya supaya tidak merepotkan teman-teman guru lain. Mmuaach...!”
”Maklum manten baru, maunya mesra-mesraan terus,” goda Bu BK.
”Belum setahun paling-paling sudah berkamu-kamu,” Bu Matematika ikutan menggoda.
”Cuma ingin memantapkan Sumpah Pemuda,” jawab Pak BI yang langsung menjelaskan sambil tersenyum, ”Karena saya guru BI maka saya lebih tekankan pada kesamaan bahasa di antara kami berdua, yakni bahasa lisan, pikiran, dan hati menuju keluarga sakinah, mawadah wa rohmah.” (noordin djihad)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar